Habiburrahman El-Shirazy, penulis buku fenomenal Ayat-Ayat Cinta menyatakan bahwa kegemarannya dalam menulis telah memberikan kenikmatan terhadap jiwanya. Dengan menulis dia dapat menciptakan perasaan sendiri. Bersemangat, bahagia, sedih, haru, tergetar dan lain sebagainya. Setidaknya itu yang dituliskan beliau dalam pengantar novelet Dalam Mihrab Cinta. Setelah direnungkan sejenak ternyata benar juga apa yang dikatakan penulis lulusan Al Azhar ini. Seorang penulis adalah raja dalam tulisannya dan berkuasa atas semua elemen yang menyusun tulisan yang dibuatnya. Semua yang dituangkan oleh penulis dalam tulisan pada akhirnya adalah untuk memberikan kesenangan terhadap jiwa seorang penulis.
Bagi saya, menulis bukan hanya sekedar merangkai kata kata atau sekedar menggoreskan tinta di kertas atau menggerakan jari di keyboard komputer tetapi memiliki arti yang lebih kompleks. Jujur saya katakan bahwa sebelumnya saya tidak merasa mempunyai bakat dalam bidang menulis juga tidak pernah mencoba untuk menemukan bakat menulis ini dalam diri saya. Sampai akhirnya ada sebuah moment yang menyadarkan saya bahwa menulis mempunyai proporsi sepuluh persen teori dan sisanya adalah praktek. Artinya adalah bahwa setiap orang mempunyai talenta untuk menulis. Keinginan untuk mengasah talenta itulah yang akan membedakan penulis hebat dengan penulis biasa-biasa saja.
Beberapa hari yang lalu di kantor tempat saya bekerja diadakan lomba menulis esai. Saya mencoba untuk berpartisipasi dalam perlombaan itu. Temanya adalah menggambarkan kondisi instansi tempat saya bekerja di masa yang akan datang. Lomba ini diikuti oleh seluruh pegawai di instasi tempat saya bekerja. Beberapa hari setelah pengumuman lomba itu digelar, saya mulai berfikir banyak hal tentang tulisan yang akan saya buat. Tetapi semuanya masih gelap. Belum ada gambaran sedikitpun. Keraguan sempat meliputi saya selama proses penulisan ini. Saya merasa tidak percaya diri. Selain karena tidak menemukan ide yang pas untuk dibuat tulisan, bayangan tentang hebatnya tulisan orang lain yang lebih pakar menciutkan nyali saya dalam memulai tulisan esai ini.
Dengan konsep seadanya saya mencoba memulai menulis esai. Karena tidak adanya konsep yang jelas itu, maka tulisan saya menjadi tidak terarah dan cenderung biasa-biasa saja. Saya berfikir untuk menentukan konsep yang jelas dan menarik perhatian. Seharusnya tugas saya sebagai peserta lebih ringan karena tema telah ditentukan panitia. Dengan tema menggambarkan kondisi masa depan maka tulisan yang dibuat bersifat future . Setelah berdialog dengan beberapa orang teman akhirnya saya menemukan konsep tentang tulisan yang akan saya buat. Proses ini memakan waktu yang lumayan lama. Tanpa terasa saya telah menghabiskan tenggang waktu yang diberikan panitia hanya untuk menemukan konsep saja. Wah betapa lambatnya saya he he… sisa waktu yang diberikan tinggal 4 hari lagi. Dengan dibantu oleh istri yang selalu setia menemani, saya mulai mencari bahan-bahan referensi. Saya fikir akan dengan mudah membuat tulisan dengan konsep yang sudah dibuat. Ternyata tidak. Kira-kira jam 11 malam, saya telah merampungkan tulisan esai . Setelah dibaca, ternyata masih tetap biasa-biasa saja. Tidak ada point of interest dalam esai saya ini. Wah gawat… Terpaksa penulisan diulangi dari awal untuk memotong ide sebelumnya yang kurang menggigit he he…. Tulisan kedua selesai tepat jam 1 malam. Saya sudah tidak sanggup untuk mereviewnya lagi dan terpaksa dilanjutkan keesokan harinya.

Malam harinya dimulai dengan berdoa semoga tulisan saya dapat selesai malam ini karena tenggang waktu sudah hampir habis, Saya mulai mereview tulisan yang dibuat malam sebelumnya. Harapan terbesar adalah mendapatkan tulisan yang memiliki point of interest dan menggigit he… he… dan ternyata itu tidak di dapatkan dari tulisan yang kedua ini. Dengan terpaksa saya harus mengulangi lagi tulisan yang ketiga dan harus berhasil. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Mulailah saya memikirkan ulang konsep yang telah dibuat. Ternyata ada beberapa bagian yang harus diubah. Tulisan ketiga selesai jam 12 malam. Dan akhirnya setelah direview saya mendapatkan tulisan yang saya inginkan. Keesokan harinya, dengan diliputi oleh keraguan saya mengirimkan esai melalui e-mail yang diumumkan panitia. Dengan ucapan basmalah dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Alloh SWT esai telah dikirmkan. Setelah dikirmkan, hati saya tenang. Usaha sudah dijalani, berdoa juga sudah dipanjatkan. tinggal menunggu keajaiban saja dan menyerahkan kepada Yang Maha Esa.
Jumat sore, saya menerima telepon dari kantor pusat yang memberitahukan bahwa saya masuk sebagai tiga nominator kategori penulisan esai dan diundang untuk menghadiri acara Awarding Moment yang dilaksanakan di Jakarta. Walaupun belum tahu juara ke berapa tetapi saya sudah sangat senang. Saya bisa pulang kampung lagi dan bertemu dengan keluarga.
Acara Awarding Moment dilaksanakan pada hari Rabu malam dengan agenda acara pembukaan Rapat Pimpinan oleh Menteri Keuangan dan penganugerahan terhadap kantor yang berprestasi, pelepasan pejabat yang akan memasuki masa purna bakti, dan penghargaan terhadap pemenang Kompetisi Kompetensi dari bebagai lomba diantaranya Penulisan esai, Fotografi, dan Cepat tepat. Acara itu dihadiri oleh Menteri Keuangan, Direktur Jenderal, seluruh pejabat teras di Instansi tempat saya bekerja, seluruh Kepala Kantor Wilayah, dan seluruh Kepala Kantor.
Tibalah saatnya pengumuman pemenang lomba esai yang saya ikuti. Saya jadi deg-degan… Pembaca nominator mulai membacakan ketiga nama yang masuk dalam kategori ini dan saya termasuk didalamnya. Jantung saya semakin gak karuan… Dan semakin menjadi setelah diumumkan bahwa saya sebagai pemenang lomba penulisan esai untuk tahun ini. Saya tidak percaya. Alhamdulillah segala puji hanya milik Alloh SWT yang telah memberikan keajabian ini kepada saya.
Itulah maksud tulisan memiliki arti yang kompleks. Dengan tulisan saya bisa pulang kampung dan bertemu orang-orang yang saya cintai, dengan tulisan saya bisa bertemu dengan teman-teman lama, dengan tulisan saya bisa bertemu dengan Menteri Keuangan dan pak Direktur Jenderal yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Terimakasih untuk semua pihak atas dukungan dan dorongan semangat sehingga saya dapat memberanikan diri membuat tulisan esai ini dan berhasil. Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Kang Deni Solehudin yang telah membuka fikiran saya untuk menemukan konsep penulisan esai ini dan khusus kepada Istri Ratih Triastuti terimakasih atas curahan perhatian dan cinta yang diberikan selama ini I love you……
http://www.perbendaharaan.go.id/new/?pilih=news&aksi=lihat&id=2496